Kisah Wali Songo 5.2 (Sunan Kalijaga)
Sejak saat itu Ki Pandanarang berubah sama sekali. Dia menjalankan
apa yang diperintahkan Sunan Kalijaga. Harta kekayaannya digunakan membangun
masjid dan menyiarkan agama Islam. Lama kelamaan datanglah waktunya untuk
menyusul Sunan Kalijaga ke Gunung Jabalkat. Di antara delapan istrinya hanya
satu yang memaksanya ikut.
"Baiklah Diajeng," kata Ki Pandanarang. "Kau boleh ikut. Tapi jangan
membawa harta, itu larangan guruku, sebab harta hanya menjadi penghalang
saja. Dan pakailah pakaian yang berwarna putih."
Istri Ki Pandanarang menurut, dia mengenakan pakaian serba putih
seperti Ki Pandanarang kemudian keduanya berangkat menuju Gunung Jabalkat
dengan berjalan kaki. Masing-masing membawa tongkat. Ki Pandanarang membawa
tongkat biasa, tapi istrinya membawa tongkat bambu yang lubangnya diisi
dengan emas dan permata. Ki Pandanarang sebenarnya mengetahui hak ini tapi
sengaja diam saja.
Karena Jabalkat itu jauh maka istri Ki Pandanarang seringkali
kelelahan dan tertinggal di belakang. Tiba-tiba istri Ki Pandanarang di
cegat tiga perampok. Karena lebih sayang jiwanya maka istri Ki Pandanarang
menyerahkan tongkatnya yang berisi emas dan permata, kemudian berlari cepat
sambil berteriak keras, "Kakangmas ada tiga orang berbuat salah !"
Tempat istri Ki Pandanarang itu dirampok selanjutnya dinamakan
SALATIGA hingga sekarang ini.
Diceritakan dalam BABAD TANAH JAWA, ada seorang perampok lain yang
belum mendapatkan mangsa. Namanya Ki Sambangdalan, dia bertemu dengan tiga
perampok tadi.
"Kami hanya sempat merampok istrinya, suaminya belum kami "makan",
tidak sempat ! Hahahahahah... !" kata tiga perampok itu.
Ki Sambangdalan segera mengejar Ki Pandanarang dengan mengerahkan
seluruh tenaganya.
Sementara itu istri Ki Pandanarang sudah dapat menyusul suaminya. Ki
Pandanarang berkata, "Bukankah sudah kukatakan, jangan membawa harta, itu
larangan guruku. Sekarang kau baru tahu rasa. Berjalanlah lebih dahulu
supaya tidak diganggu perampok."
Istri Ki Pandanarang menurut, kini dia berjalan di depan. Sementara
itu Ki Sambangdalan sudah dapat menyusul Ki Pandanarang. Dengan suara keras
dia membentak, "Serahkan hartamu atau aku akan menghajarmu sampai babak belur !"
"Aku tak mempunyai harta," jawab Ki Pandanarang.
Ki Sambangdalan tak percaya, direbutnya tongkat yang dibawa Ki
Pandanarang. Tongkat itu terbuat dari kayu biasa, tidak ada lubangnya dan
tidak ada emas atau permata pada tongkat itu. Ki Sambangdalan menjadi marah.
Sementara Ki Pandanarang meneruskan langkahnya.
Ki Sambangdalan mengikutinya dari belakang sembari berkata
berkali-kali. "Serahkan hartamu atau kau kuhajar sampai babak belur !"
"Kau ini sepertinya bukan manusia, kau keras kepala seperti kambing
!" ujar Ki Pandanarang dengan hati kesal.
Ki Pandanarang terus berjalan hingga sampai di sebuah sungai berair
jernih. Ki Sambangdalan terus mengikuti sambil mengancam dan menakut-nakuti.
Ki Pandanarang tenang saja menyeberangi sungai itu. Sebaliknya Ki
Sambangdalan merasa takut masuk ke dalam air. Di atas permukaan air
dilihatnya sebuah bayangan aneh, seorang manusia berkepala domba. Ki
Sambangdalan memeriksa dirinya, ternyata benar, dia telah berubah, kepalanya
tidak lagi berupa manusia tapi kepala domba atau kambing.
"Aduh biyung ! Tobat aku, ampuuuun... !" ratap Ki Sambangdalan.
Karena merasa takut dia terus mengikuti Ki Pandanarang kemanapun pergi.
Akhirnya Ki Pandanarang dan istrinya sampai di Tembayat. Dia naik ke
Gunung Jabalkat di sana ada masjid kecil dan sebuah Jun atau Padasan tempat
berwudlu. Jun tersebut seperti kebanyakan yang terdapat di langgar-langgar
tetapi sangat besar. Mulutnya berada di bawah.
Ki Pandanarang berkata kepada Ki Sambangdalan, "Isilah Jun ini
sampai penuh nanti kau akan kembali seperti semula. Tapi ingat jangan kau
sumbat mulut
Jun ini."
Karena di atas bukit Jabalkat tidak ada air maka Ki Sambangdalan
harus mengambilnya dari lembah, sehingga bila ia sampai di atas bukit air
dalam Jun itu telah habis mancur keluar. Siang malam Ki Sambangdalan
bekerja, tak berhenti, tak mengeluh karena ingin menebus dosa dan ingin
kembali seperti manusia kebanyakan. Setelah tiga puluh lima hari Sunan
Kalijaga datang.
Ketiga orang tadi menyambutnya dengan gembira. Ki Sambangdalan yang
kepalanya berupa domba dikembalikan seperti semula. Jun yang tadinya kosong
tiba-tiba penuh dengan air secara ghaib. Sunan Kalijaga membuat mata air di
bukit itu. Ketiga orang itu kemudian dididik ilmu Sangkan-paraning dumadi
atau asal-usul dan tujuan segala makhluk. Setelah selesai Sunan Kalijaga
kembali ke Kadilangu. Ki Pandanarang menjadi penyebar agama di Tembayat yang
kemudian dikenal sebagai Sunan Bayat. Sedang Ki Sambangdalan diberi julukan
Syeh Domba.
Pada suatu ketika Sunan Bayat menyamar sebagai penduduk biasa. Ia
pergi ke Desa Wedi, menjadi pelayan Ki Tasik dan Nyai Tasik. Suami istri itu
berjualan kue srabi ke Pasar Wedi. Sunan Bayat selalu mengantarkannya
sembari memikul segala sesuatu yang diperlukan.
Pada suatu hari pasar ramai sekali. Banyak orang yang membeli kue
srabi, karena tergesa-gesa waktu berangkat si pelayan tidak membawa kayu
yang cukup, sehingga pada suatu ketika kayunya habis sementara orang yang
antri hendak membeli kue srabi masih banyak.
"Sekarang bagaimana akalmu ?" kata Nyai Tasik dengan hati masgul.
"Kayu tidak dibawa semua. Dengan apa kita membuat api untuk memasak kue
srabi, dengan tanganmukah ?"
Pelayan itu tanpa berkata suatu apa tiba-tiba memasukkan tangannya
ke dalam tungku. Tangan itu mengeluarkan api sehingga Nyai Tasik dapat
melayani para pembelinya dengan cepat. Keajaiban itu segera tersiar ke
seluruh pasar. Orang berbondong-bondong ingin menyaksikan tangan yang dapat
mengeluarkan api. Akhirnya dagangan Nyai Tasik habis dan segera pulang ke rumah.
Sampai di rumah diceritakannya kejadian di pasar itu kepada
suaminya. Ki Tasik terkejut. Sadarlah dia bahwa sesungguhnya pelayannya itu
adalah seorang wali yang sedang menyamar. Suami istri itu segera minta maaf.
Mereka masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Makin lama agama Islam
berkembang di tempat itu.
III. Empu Supa
Empu Supa adalah putra salah seorang pembesar Majapahit yang bernama
Tumenggung Supadrinya. Empu Supa masih berusia muda tapi mempunyai ilmu yang
tinggi, baik ilmu kesaktian maupun ilmu membuat keris. Kalau membuat keris
dia cukup memijat-mujatnya saja.
Empu Supa senang mengembara. Sampai pada suatu ketika dia bertemu
dengan Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai Ki Dalang Kumendung. Sunan
Kalijaga memberinya segenggam besi untuk dibuat keris. Mula-mula Empu Supa
menganggap remeh besi itu, namun sewaktu dikerjakan atau dibentuk menjadi
keris tahulah dia bahwa besi itu bukan besi sembarangan. Jangan kata hanya
dengan memijat-mijatnya, sudah dibakarnya besi itu tetap tak mau meleleh
sehingga Empu Supa tak dapat membentuknya menjadi keris.
Sejak itu Empu Supa sadar bahwa Ki Dalang Kumendung itu orang sakti
dan dia ingin menjadi muridnya. Setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga lagi
dia mengutarakan maksudnya. Atas bantuan Sunan Kalijaga dia dapat membuat
keris dari besi yang tak dapat meleleh tadi. Selanjutnya dia diangkat
sebagai murid Sunan Kalijaga, masuk agama Islam dan menjadi mukmin yang taat
menjalankan perintah agama.
Empu Supa kemudian dijodohkan dengan adik Sunan Kalijaga yang
bernama Dewi Rasawulan, dan tinggal di Kadipaten Tuban.
Pada suatu hari Empu Supa dan istrinya berkunjung ke Majapahit. Pada
saat itu Majapahit sedang dilanda wabah penyakit. Ratu Dwarawati dan
keluarga keraton lainnya banyak yang jatuh sakit. Bahkan kedua Empu
Majapahit yang berusia lanjut, yang terkenal akan kesaktiannya juga jatuh
sakit yaitu Tumenggung Supadriya dan Tumenggung Supagati. Padahal malam
kedatangan Empu Supa itu adalah giliran jaga Empu Supadriya dan Empu
Supagati di keraton Majapahit. Terpaksa Empu Supa menggantikan giliran jaga
ayahnya. Sedang Empu Supagati diwakili anaknya yang bernama Ki Digja. Empu
Supa membawa senjata andalannya yaitu Keris Kyai Sengkelet. Sedang Ki Digja
membawa Keris Sabuk Intan.
Di tengah malam Empu Supa masih terjaga, sedang Ki Digja sudah
tertidur pulas karena pada saat itu memang udara sangat dingin dan seperti
sengaja disirep orang.
Tiba-tiba sepasang mata Empu Supa melihat cahaya merah keluar dari
kamar pusaka Keraton Majapahit. Empu Supa terus memperhatikan kilatan cahaya
itu, ternyata adalah Keris Condongcampur, pusaka andalan Kerajaan Majapahit.
Keris itu melayang-layang di udara, mengitari gapura, pendapa dan halaman
istana untuk menyebar teluh.
Empu Supa teringat pesan gurunya yaitu Sunan Kalijaga. Dia segera
mengeluarkan keris pusakanya Kyai Sengkelet. Keris itu meluncur ke udara
menyusul dan menyerang Kyai Condongcampur. Keduanya bertempur di udara
dengan serunya. Akhirnya Kyai Condongcampur kalah diterjang oleh Kyai
Sengkelet berkali-kali. Pusaka Kerajaan Majapahit itu kembali ke tempatnya
semula.
Tepat dengan masuknya Kyai Condongcampur ke dalam kamar pusaka
kerajaan, Prabu Brawijaya terbangun dari tidurnya. Satu-satunya orang yang
dilihatnya masih membuka mata hanyalah Empu Supa. Lainnya tertidur pulas.
Tidak lama kemudian bangunlah Ratu Dwarawati dalam keadaan segar bugar.
Permaisuri itu telah sembuh seperti sedia kala. Esok harinya semua orang
yang menderita sakit mendadak sembuh, wabah penyakit di Majapahit telah
sirna, semua itu atas jasa Empu Supa, murid Sunan Kalijaga.
IV. Sunan Geseng
Menurut BABAD TANAH JAWA, Sunan Geseng itu nama aslinya adalah Ki
Cakrajaya. Pekerjaannya menyadap nira untuk dijadikan gula. Pada suatu hari
dia bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga tahu kebiasaan Ki
Cakrajaya, yaitu sesudah selesai bekerja Ki Cakrajaya pasti duduk
beristirahat sambil menembang, melantunkan syair. Maka Sunan Kalijaga
memberinya tembang yang berisikan dzikir kepada Allah.
Pada suatu hari terjadilah keajaiban, gula yang dibuat Ki Cakrajaya
berubah menjadi emas. Dia heran bukan kepalang. Namun segera teringat kepada
Sunan Kalijaga yang telah mengajarnya dzikir. Maka dia segera mencari Sunan
Kalijaga. Setelah bertemu dia mohon dijadikan murid.
Untuk menguji keteguhan hatinya, Sunan Kalijaga menyuruh Ki
Cakrajaya menungguinya di tengah hutan. Dengan patuh Ki Cakrajaya
mengerjakan perintah Sunan Kalijaga. Dia bersujud selama setahun penuh
sehingga tubuhnya sudah tidak tampak lagi, hutan itu telah ditutupi padang
alang-alang dan semak belukar.
Pada suatu ketika Sunan Kalijaga teringat pada calon muridnya itu.
Dia dan para muridnya yang lain segera mencari Ki Cakrajaya. Karena sukar
untuk mencari Ki Cakrajaya maka daerah tempat Ki Cakrajaya dahulu bersujud
di bakar. Setelah seluruh alang-alang hangus terbakar tampaklah tubuh Ki
Cakrajaya yang masih bersujud menghadap ke barat. Pakaiannya telah hancur
tapi tubuhnya tetap utuh.
Sunan Kalijaga membangunkannya, Ki Cakrajaya diwejang ilmu yang
tinggi-tinggi dan akhirnya diberi nama Sunan Geseng. Geseng artinya gosong,
habis terbakar. Sunan Geseng menjadi salah seorang penyebar agama Islam di
Jawa Tengah. Demikian menurut BABAD TANAH JAWA GALUH MATARAM.
Lain lagi menurut Kitab Kanzul Ulum Ibnul Bathutah yang tulisannya
dilanjutkan oleh Syeh Maulana Maghribi, dan diterjemahkan oleh KH. Dachlan
Abdul Qohar bahwa Sunan Geseng itu nama aslinya adalah Maulana Muhammad
Al-Maghribi berasal dari Maroko yang berdakwah dan wafat di Tanah Jawa.
Karena orang Jawa kesukaran menyebut Syeh Muhammad Al-Maghribi maka
mereka menyebutnya Ki Ageng Gribig. Ada juga yang menyebutnya Sunan Geseng.
Kisahnya demikian, pada suatu hari Syeh Maghribi mendekati patung
yang disembah orang banyak. Sebagian dari penyembah patung itu berkata,
"Jangan dekat-dekat dengan Tuhan kami, nanti kamu celaka."
"Lho !? Patung ini khan buatan orang !?" kata Syeh Maghribi.
"Mengapa kalian menyembahnya ?"
"Kuperingatkan, jangan mendekatinya dan jangan menghinanya. Kalau
kau menghinanya pasti akan mendapatkan kesusahan. Tapi kalau kau
menyembahnya pasti akan mendapat kebahagiaan." kata penyembah patung itu.
"Aku tidak percaya, masak patung macam ini bisa membuat susah dan
senang orang," kata Syeh Maghribi. Lalu tangannya memegang leher patung itu.
Hanya dengan memegang lehernya saja kepala patung itu mendadak pecah
berantakan, dan Syeh Maghribi tidak mendapat kecelakaan. Tubuhnya tetap
sehat segar bugar. Karena tidak membawa akibat apa-apa maka sebagian
penyembah berhala itu kemudian ingin berguru kepada Syeh Maghribi. Tapi ada
juga sebagian yang masih tetap kafir malah ingin membunuh Syeh Maghribi.
Mereka selalu mencari-cari kesempatan untuk menghabisi jiwanya.
Pada suatu hari Syeh Maghribi tertidur di bawah pohon yang rindang.
Demikian asyiknya dia tertidur sehingga tak merasa bila beberapa orang yang
membencinya melempari batu berkali-kali. Tubuh Syeh Maghribi sampai tak
kelihatan lagi karena tertutup oleh batu yang dilemparkan musuh-musuhnya.
Mereka mengira tentulah Syeh Maghribi sudah mati tertimbun batu.
Tetapi tiba-tiba bangunlah Syeh Maghribi dari timbunan batu-batu itu
dalam keadaan segar bugar. Melihat kesaktian Syeh Maghribi itu makin
banyaklah orang yang masuk Islam, tapi tetap ada saja orang yang membenci
dan bermaksud membunuhnya.
Pada kesempatan lain, sesudah shalat dhuhur, Syeh Maghribi tertidur
di bawah pohon lagi. Barangkali hal itu memang disengajanya untuk memberi
kesempatan kepada orang-orang yang membencinya.
Ketika dia tertidur pulas tubuhnya ditimbuni rumput kering kemudian
diberi tumpukan jerami kering pula dan dibakar. Sejak api dinyalakan hingga
padam Syeh Maghribi tidak bangun dari tidurnya. Tak lama setelah api padam
bangunlah beliau dalam keadaan seperti semula. Hanya pakaiannya di sana sini
banyak yang terkena abu, tapi tetap utuh tak ada selembar kainpun yang
terbakar. Sejak saat itu makin banyak orang yang masuk agama Islam dan Syeh
Maghribi kemudian disebut Sunan Geseng.
Syeh Maghribi datang ke Tanah Jawa pada tahun 1404 dan wafat tahun
1465 M. Makamnya terletak di Jatianom, Klaten, Jawa Tengah.
iklan nuffnang
Kisah Wali Songo 5.2 (Sunan Kalijaga)
Kisah Wali Songo 5 (Sunan Kalijaga)
Kisah Wali Songo 5.1 (Sunan Kalijaga)
Sunan Kalijaga
I. Asal mula nama Kalijaga
Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Sahid atau Said. Di dalam
BABAD TANAH JAWA ada yang menyebutnya Jaka Setya. Dia adalah putra Adipati
Tuban yang bernama Raden Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta ini
masih keturunan Adipati Tuban yang pertama yaitu Ranggalawe.
Silsilah keturunan Raden Said ialah: Adipati Ranggalawe atau Aria
Adikara, berputra Aria Teja I, berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja
III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta dan akhirnya berputra Raden Mas
Said atau Sunan Kalijaga.
Menurut sebuah sumber, Aria Teja I dan II ini masih memeluk agama
Syiwa (Hindu) sedang Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah
memeluk agama Islam.
Di masa muda, Raden Said termasuk salah seorang anak muda yang tidak
puas dengan keadaan di sekelilingnya. Pada waktu itu situasi kerajaan
Majapahit sedang memburuk. Banyak wabah penyakit merajalela akibat kemarau
panjang. Sedang rakyat jelata diharuskan membayar pajak yang mencekik leher.
Raden Said keluar dari Kadipaten Tuban, mengembara ke sebuah daerah
yang disebut Jatiwangi di daerah Lasem, Jawa Tengah. Raden Said merampok
para bangsawan yang berjalan melintasi hutan Jatiwangi. Hasil rampokan itu
dibagi-bagikan kepada fakir miskin, tidak pernah dimakan sendiri.
Pada suatu hari, dia melihat seorang lelaki tua berjubah putih
sedang berjalan di tengah hutan kekuasaannya. Raden Said memperhatikan orang
itu, terutama pada tongkat yang dibawa orang itu. Menurut penglihatan Raden
Said, tongkat yang dibawa orang asing itu gagangnya terbuat dari emas
berhiaskan berlian.
Raden Said tergiur melihat hal itu. Dengan kepandaian ilmu silatnya,
dia meloncat dan langsung menghadang orang itu.
"Serahkan tongkat itu kepadaku !" hardik Raden Said.
"Buat apa anak muda ?" tanya orang itu dengan wajah tenang. Raden
Said heran, biasanya orang yang hendak dirampok pasti gemetar ketakutan.
Tapi orang berpakaian serba putih itu tetap bersikap tenang.
"Tongkat berganggang emas dan berhiaskan permata," ujar Raden Said.
"Tentu harganya mahal. Aku akan menjualnya, akan kuberikan uangnya kepada
fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya."
"Hemm, sungguh kasihan," gumam orang itu. "Masih, begini muda sudah
sesat jalan. Sebenarnya niatmu baik sekali ingin menolong orang yang
menderita para fakir miskin dan sebagainya. Tapi jalan yang kau tempuh
kaliru. Kalau kau ingin menolong orang lain, ingin bersedekah, janganlah
bersedekah dari hasil merampok. Merampok atau mencuri haram hukumnya.
Carilah harta atau uang yang halal, dari hasil keringatmu sendiri."
"Ucapanmu juga baik sekali, orang tua," sahut Raden Said. "Tapi hari
ini aku tidak butuh ucapan dan nasehat, aku butuh tongkatmu. Serahkan
kepadaku atau aku akan merebutnya dengan paksa !"
"Kau menginginkan harta ?"
"Jangan banyak bicara ! Serahkan saja tongkat itu !" hardik Raden Said.
"Jika kau menginginkan harta, nah ! Ambillah itu ! Harta itu halal.
Kau boleh mengambil seberapapun kau mau !" kata orang tua itu sembari
menudingkan tangannya ke arah pohon aren.
Seketika pohon aren berubah menjadi emas berkilauan. Batang, buah
dan daun pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said tercengang
melihat kejadian itu.
Sadarlah Raden Said, dia sedang berhadapan dengan orang berilmu
tinggi. Serta merta Raden Said berlutut minta ampun dan mohon dijadikan
murid orang itu. Orang berjubah putih itu tidak lain adalah Sunan Bonang.
Sebenarnya, sudah lama Raden Said ingin berguru kepada orang yang berilmu
tinggi, dia ingin memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam.
Sunan Bonang tidak segera menjawab melainkan meneruskan
perjalanannya. Ringan saja tampaknya langkah Sunan Bonang, Raden Said
mengejarnya namun sungguh aneh, biarpun Raden Said mengerahkan seluruh
tenaganya untuk berlari cepat tetap saja dia tak mampu menyusul Sunan Bonang.
Sampai pada suatu ketika Raden Said melihat Sunan Bonang berjalan di
tepi sungai, dengan susah payah, nafas ngos-ngosan Raden Said akhirnya dapat
menyusul Sunan Bonang.
"Kanjeng Sunan... sudilah menerima saya sebagai murid," pinta Raden
Said.
"Menjadi muridku ? Mau belajar apa ? Ingin belajar menciptakan emas
dan permata ?" tanya Sunan Bonang.
"Tidak, Kanjeng Sunan, saya ingin memperdalam agama Islam." jawab
Raden Said.
Sunan Bonang diam beberapa saat. Sepasang matanya menatap tajam
kearah wajah Raden Said, kemudian orang tua itu menancapkan tongkatnya ke
tanah dan berkata kepada Raden Said, "Tunggu di tempat ini sampai aku kembali."
"Sendika dawuh, Kanjeng Sunan," jawab Raden Said dengan sangat hormat.
Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya, sepasang mata Raden Said
terbelalak heran, dia melihat Sunan Bonang menyeberangi sungai dengan
berjalan di atas air seperti berjalan di daratan saja.
Makin mantap tekad Raden Said untuk berguru kepada Sunan Bonang. Dia
segera duduk bersila di hadapan tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di
tepi sungai. Sedang Sunan Bonang sudah melanjutkan perjalanannya lagi.
Al kisah, Sunan Bonang terlupa kepada Raden Said yang disuruh
menunggui tongkatnya hingga berbulan-bulan lamanya. Begitu teringat pada
Raden Said, Sunan Bonang segera pergi ke sungai tempatnya dahulu beliau
menancapkan tongkat.
Ternyata Raden Said masih setia menunggui tongkatnya. Pemuda itu
duduk bersila seperti bertapa, seluruh tubuhnya dipenuhi akar semak belukar
dan dedaunan, rambut dan jenggotnya panjang terurai. Sunan Bonang
membangunkannya dengan suara adzan. Raden Said dibawa ke tempat tinggal
Sunan Bonang dididik dengan segala macam pengetahuan agama. Karena
kesungguhan hati dan ketekunannya, dia dapat menyerap dan mengembangkan ilmu
yang diterimanya dari Sunan Bonang. Raden Said tidak hanya berguru kepada
Sunan Bonang saja, atas anjuran Sunan Bonang sendiri beliau juga berguru
kepada Sunan Ampel, juga kepada seorang ulama terkenal di Palembang yaitu
Syeh Sutabaris.
Akhirnya Raden Said masuk menjadi anggota Wali Songo, sebutannya
adalah Sunan Kalijaga, karena beliau pernah menjaga tongkat Sunan Bonang di
tepi sungai.
Raden Said adalah satu-satunya wali yang paling akrab dengan
masyarakat Jawa. Dia lebih sering mengenakan pakaian sederhana yang biasa
dikenakan rakyat jelata ketimbang jubah serba putih seperti orang Arab. Dia
memanfaatkan kesenangan masyarakat Jawa sebagai sarana menyebarkan agama
Islam yaitu Wayang Kulit, Tembang dan Gending atau gamelan. Semua seni yang
mengalir dalam tubuhnya diberi nafas Islam, dijadikan alat dakwah sehingga
rakyat banyak yang menyukainya, baik dari kalangan atas maupun dari kalangan
bawah.
Bila sedang mendalang di Jawa Barat, dia menggunakan nama samaran Ki
Dalang Sida Brangti, bila mendalang di Tegal dia dikenal sebagai Ki Dalang
Bengkok dan bila mendalang di Purbalingga dia disebut Ki Dalang Kumendung.
Namanya banyak sekali, semua itu hanya untuk memudahkan penduduk sekitar
mengenalnya lebih akrab, sehingga masyarakat tidak merasa asing mendengar
namanya.
II. Sunan Bayat dan Syeh Domba
Murid-murid Sunan Kalijaga banyak sekali jumlahnya, diantaranya
adalah Sunan Bayat dan Syeh Domba.
Dahulu Syeh Siti Jenar adalah anggota Wali Songo, namun karena dia
tersesat akhirnya dihukum mati oleh para wali. Sewaktu diadakan musyawarah
para wali, Sunan Kalijaga menunjuk Adipati Semarang sebagai pengganti Siti
Jenar. Para wali tercengang, karena Adipati Semarang bernama Ki Ageng
Pandanarang dikenal sebagai orang yang gila harta.
"Ki Ageng Pandanarang itu ibarat intan masih bercampur dengan
lumpur, saya akan mencoba membersihkan lumpur itu dari hati Ki Ageng
Pandanarang. Sudah saatnya dia berada di jalan Tuhan," kata Sunan Kalijaga
dengan penuh keyakinan.
"Memang benar, Ki Pandanarang adalah seorang Adipati yang terkenal,
bukan karena kekuasaannya di Kadipaten Semarang, tapi karena kekayaannya,
karena cintanya kepada harta dunia. Rumahnya cukup banyak dan besar-besar.
Ternak dan kuda hampir tak terbilang. Istrinya delapan orang, semuanya
cantik-cantik.
Walaupun urusan pemerintahan cukup banyak, Ki Pandanarang masih
sempat berdagang keluar masuk pasar. Ia pandai mencari barang dagangan murah
dan cerdik pula mencari saat yang tepat untuk menjual barang dagangannya
semahal-mahalnya.
Pendek kata Ki Pandanarang adalah orang yang sangat terkenal akan
kekayaannya, relasinya banyak, anaknya banyak, cucunya banyak, namun
kikirnya bukan main.
Pada suatu pagi, Ki Pandanarang masuk ke dalam pasar. Dia
berkeliling mencari barang dagangan, namun pagi itu tidak ada satupun barang
dagangan yang menarik hatinya. Dengan malas dia berjalan tanpa tujuan,
sampai akhirnya dia bertemu dengan penjual rumput di sudut pasar, rumput
alang-alang yang tampak segar, penjualnya seorang lelaki tua mengenakan
caping lebar.
"Pak tua, berapakah harga rumput alang-alang ini ?" tanya Ki
Pandanarang.
"Dua puluh lima keteng, Ki Ageng," jawab lelaki itu.
Ki Pandarang menerima harga itu tanpa ditawar lagi, harga itu sudah
sangat murah, karena rumput sepikul umumnya berharga empat puluh keteng.
"Baiklah, antarkan rumput ini ke rumahku." kata Ki Pandanarang.
Keduanya segera meninggalkan pasar menuju kadipaten. Sampai di rumah
harga dibayar dan Ki Pandanarang memesan lagi rumput untuk makanan ternaknya.
"Bisa Ki Ageng," kata lelaki itu. "Besok akan saya antar kemari."
Penjual rumput alang-alang itu pergi. Ki Pandanarang menyuruh
pelayannya untuk membuka ikatan alang-alang itu untuk dijemur dan dibuat
atap kandang kudanya. Pada waktu perintah itu dikerjakan, si pelayan
menemukan bungkusan kecil, diserahkannya bungkusan itu kepada Ki
Pandanarang. Bungkusan dibuka, ternyata berisi uang sebanyak dua puluh lima
keteng. Ki Pandanarang heran bercampur gembira.
"Untung benar aku hari ini," gumam Ki Pandanarang."Membeli rumput
tanpa mengeluarkan uang."
Esok harinya, sehabis makan pagi, Ki Pandanarang duduk di pendapa.
Dari jauh tampak penjual rumput datang. Ki Pandanarang heran, hari masih
pagi benar tapi lelaki itu sudah membawa dua keranjang penuh rumput-rumput
segar.
Seperti kemarin, rumput itu dibeli dengan harga dua puluh lima keteng.
"Sepagi ini kau sudah dapat membawa dua keranjang penuh rumput
segar. Di manakah rumahmu, Pak Tua ?" tanya Ki Pandanarang.
"Rumah saya jauh di gunung Jabalkat, Ki Ageng," jawab penjual rumput.
"Jauh sekali," gumam Ki Pandanarang . "Apakah kau mondok di Kota
Semarang ini ?"
"Tidak, Ki Ageng," jawab penjual rumput. "Pagi-pagi berangkat dan
sorenya pulang."
Lagi-lagi Ki Pandanarang heran. Orang itu berjalan jauh sekali hanya
untuk dua puluh lima keteng, dan kemarin dia tidak membawa hasil sama sekali
karena uangnya tertinggal di rumput alang-alang.
Setelah penjual rumput itu selesai mengeluarkan rumput dari
keranjangnya, Ki Pandanarang mengeluarkan uang dua puluh lima keteng, harga
rumput itu. "Untung aku hari ini," gumamnya. "Baiklah, antarkan rumput ini
ke rumahku," kata Ki Pandanarang.
Penjual rumput menerima uang itu kemudian berkata, "Terima kasih Ki
Ageng. Tapi bila Ki Ageng tidak berkeberatan saya minta sedekah. Sedekah
karena Allah."
Ki Ageng Pandanarang tidak menjawab melainkan melemparkan uang logam
seketeng ke arah penjual rumput. Uang jatuh di batu menimbulkan suara
berdencing.
"Saya tidak minta uang," kata penjual rumput. "Saya tidak suka harta
dunia. Saya minta sedekah berupa bedug berbunyi di Semarang."
"Alangkah sombongnya kau ini, Pak Tua," kata Ki Pandanarang. "Keteng
yang kuberikan itu adalah bagian dari real (uang perak) dan real bagian dari
dirham (uang emas). Kau minta bedug berbunyi di Semarang ini. Apakah itu
akan mendatangkan uang ?"
"Kau terlalu memuja dan mendewakan harga, Ki Ageng, itu tidak baik,"
kata penjual rumput. "Cinta harta hanya menjadi penghalang masuk surga.
Ingatlah Ki Ageng, orang tidak kekal hidup di dunia ini, akhirnya dia akan
mati dan kembali ke alam baka dan Ki Ageng tidak dapat membawa harta yang Ki
Ageng miliki. Tetapi kalau kita masuk surga kita akan kaya raya, apa yang
dikehendaki pasti tersedia."
Ki Pandanarang tersenyum mengejek sembari berkata, "Pak Tua yang
pandai berpidato, bicaramu seperti sudah pernah melihat surga saja. Coba
kalau Pak Tua tahu betul apa surga itu, tentu kaupun tidak akan menjual
rumput begini. Tidak minta hal-hal yang aneh seperti minta bedug berbunyi di
Semarang ini. Tentu kau betah tinggal di surga itu."
"Jangan menghina orang," kata penjual rumput. "Biarpun pekerjaan
menjual rumput tampak remeh tapi ini pekerjaan halal. Tidak menipu dan
memeras orang. Kalau saya menginginkan harta melimpah saya tak usah
berpayah-payah, cukup mencangkul sekali, tanah yang saya cangkul pasti
berubah menjadi emas."
"Bicaramu halus tapi sebenarnya kau sombong sekali Pak Tua," sahut
Ki Pandanarang. "Bisakah kau membuktikan ucapanmu yang pongah itu ? Kalau
kau dapat membuktikannya, aku akan berguru kepadamu !"
Ki Pandanarang kemudian memerintahkan pelayan untuk mengambil
cangkul dan disuruh memberikannya kepada penjual rumput.
Dengan tenang penjual rumput itu menerima cangkul dan kemudian
diayunkan menghujam tanah, setelah tanah diangkat tiba-tiba berubah menjadi
emas berkilauan.
Ki Pandanarang ternganga, untuk beberapa saat lamanya dia menjublak
di tempatnya berdiri, tak bisa mengeluarkan suara sehingga dia tak
mengetahui bahwa penjual rumput itu sudah melangkah meninggalkan rumahnya.
Setelah sadar barulah Ki Pandanarang celingukan mencari lelaki si
penjual rumput tapi lelaki itu sudah nampak di kejauhan. Ki Pandanarang
mengejarnya.
"Tunggu... ! Tunggu Pak Tua... !" seru Ki Pandanarang.
Setelah dapat menyusul lelaki itu, Ki Pandanarang menjatuhkan diri
berlutut sembari berkata, "Ampun... ampunilah saya yang buta hati ini. Saya
mengakui bersalah karena menghina sesama manusia."
Orang itu menyuruhnya bangun. Ki Pandanarang tidak mau bangun
sebelum diterima menjadi muridnya, ia sudah bertekad ingin berguru kepada
orang itu. Apa saja perintah orang itu dia berjanji akan melaksanakannya.
"Kau sanggup menerima syaratnya ?" tanya lelaki itu.
"Hamba sanggup. Apa saja yang diperintahkan hamba akan turut." kata
Ki Pandanarang.
"Aku minta bukti kesanggupanmu," kata orang itu. "Pertama, jalankan
ibadah selama hidupmu. Dirikan masjid di Semarang. Serahkan hartamu kepada
yang berhak menerimanya. Orang yang berguru itu harus meninggalkan rumah
maka susullah aku ke Gunung Jabalkat itu ?"
"Bolehkah hamba bertanya, dimanakah Gunung Jabalkat itu ?"
"Kalau hamba boleh mengetahui, siapakah Tuan ini ?" tanya Ki
Pandanarang.
Orang itu membuka capingnya sembari berkata, "Namaku disebut orang
Sunan Kalijaga."
Ki Pandanarang terkejut setengah mati mendengar nama itu. Sunan
Kalijaga adalah salah seorang wali yang sangat terkenal akan ketinggian dan
kedalaman ilmunya. Namun Sunan Kalijaga segera memberi salam dan tubuhnya
tiba-tiba lenyap dari pandangan Ki Pandanarang.
nuffnang
Malaikat
Hari kiamat
Kisah Wali Songo
- Sunan Giri (3)
- Sunan Kalijaga (2)
- Sunan Ampel (1)
- Sunan Bonang (1)
- Sunan Drajad (1)
- Sunan Gunung Jati (1)
- Sunan Kudus (1)
- Sunan Muria (1)
- Syeh Maulana Malik Ibrahim (1)
Online
• Pilih Siaran radio anda
klik "STOP" untuk hentikan siaran radio. Semoga terhibur.

