iklan nuffnang

Memaparkan catatan dengan label Sunan Giri. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sunan Giri. Papar semua catatan

Kisah Wali Songo 3.3 (Sunan Giri)

Khamis, 3 Disember 2009 · 0 ulasan

Kisah Wali Songo 3.3 (Sunan Giri)
III. Seorang Brahmana Sakti menantang Sunan Giri


Beberapa sumber mengatakan bahwa Sunan Giri atau Raden Paku beristri
dua orang. Yang pertama bernama Dewi Murtasiah dan yang kedua bernama Dewi
Wardah.
Mula-mula Raden Paku berdakwah sambil terus membantu ibunya
menjalankan roda perdagangan. Lama-lama hal ini dirasa kurang efektif,
banyak orang yang ingin berguru kepada Raden Paku tapi Raden Paku sendiri
kadangkala harus berlayar selama beberapa hari ke luar pulau. Murid-murid
Raden Paku tidak dapat belajar dengan tenang karena sering ditinggal gurunya.
Raden Paku bermaksud meninggalkan dunia pelayaran. Hal itu
diutarakan kepada ibu angkatnya. Ibu angkatnya ternyata setuju karena dunia
pelayaran kurang menarik bagi Raden Paku, disamping itu dunia pelayaran
dirasa kurang cocok dengan ilmu yang sudah dipelajarinya di Negeri Pasai. Ia
ingin mendirikan pesantren.
Sebelum Raden Paku mencari tempat untuk membangun pesantren,
terlebih dahulu dia berkhalwat, bertafakkur menyendiri di tempat sunyi.
Daerah tempat Raden Paku itu bertafakkur hingga sekarang masih ada,
dinamakan Desa Kembangan dan Kebomas.
Setelah bertafakkur selama 40 hari 40 malam Raden Paku teringat
pesan ayahandanya sewaktu berada di Negeri Pasai, yaitu Syeh Maulana Ishak.
Sebelum pulang ke Tanah Jawa Raden Paku diberi bekal segumpal tanah oleh
ayahnya. Segumpal tanah itu adalah petunjuk bagi Raden Paku untuk mencari
tempat guna mendirikan pesantren.
Apabila daerah yang dicari tanahnya cocok dengan tanah yang dibawa
maka ditempat itulah dia akan mendirikan pesantren Raden Paku pun mengembara
untuk mencari daerah yang sesuai dengan contoh tanah yang dibawanya dari
Negeri Pasai. Akhirnya Raden Paku sampai di sebuah daerah dataran tinggi
atau perbukitan. Raden Paku merasakan kesejukan dan kedamaian di tempat itu.
Dia mengeluarkan bungkusan kain putih berisi tanah dari Negeri Pasai,
ternyata tanah itu cocok dengan tanah yang diinjaknya.
"Berarti di bukit atau gunung inilah aku harus mendirikan
pesantren," gumam Raden Paku dengan hati lega.
Raden Paku kemudian pulang, memberitahukan hal itu kepada Nyai Ageng
Pinatih. Wanita tua itupun turut merasa senang dan segera membantu segala
hal yang diperlukan untuk mendirikan pesantren.
Tempat Raden Paku mendirikan pesantren itu sekarang terletak di Desa
Sidomukti. Dan pesantren itu dinamakan Giri. Artinya menurut Bahasa
Sansekerta adalah gunung. Raden Paku yang mendirikan pesantren dinamakan
Sunan Giri.
Pada suatu hari di bawah kaki gunung, Raden Paku bertemu dengan
seorang penjual kunir. Orang itu berkata kepada dirinya sendiri. "Ah,
seandainya kunir yang kupikul ini menjadi emas alangkah senang hatiku, tidak
perlu bersusah payah lagi tiap hari naik dan turun gunung."
Raden Paku berdoa seketika kunir yang dipikul orang itu berubah
menjadi emas berkilauan. Orang itu ternganga dan menjublak ditempatnya,
buru-buru orang itu mengejar Raden Paku yang sudah melangkah naik gunung.
Sampai di pesantren dia bersujud dihadapan Raden Paku ingin menjadi
murid Raden Paku. Kejadian itu hanya salah satu di antara karomah yang
dimiliki oleh Raden Paku.
Makin hari makin banyak orang-orang yang berdatangan untuk berguru
kepada Sunan Giri. Tiga tahun kemudian Pesantren Giri sudah terkenal ke
seluruh Nusantara, karena banyak murid-murid Sunan Giri yang terdiri dari
orang-orang pelayaran. Muridnya ada yang datang dari Madura, Lombok,
Makassar (Ujung Pandang), Kalimantan, Hitu, Ternate (Kep. Halmahera) dan
seluruh Tanah Jawa.
Bahkan menurut BABAD TANAH JAWA murid-murid Sunan Giri itu ada yang
berasal dari Mesir, Turki dan Rum (Romawi).
Demikian terkenalnya Sunan Giri sebagai orang yang berilmu tinggi
sehingga seorang Brahmana sakti dari lereng Gunung Lawu merasa iri. Namanya
Begawan Mintasemeru, muridnya cukup banyak. Karena merasa penasaran suatu
hari Begawan Mintasemeru datang ke Pesantren Giri. Menurut BABAD TANAH JAWA
sedemikian saktinya Begawan Mintasemeru ini sehingga hanya beberapa kejab
mata dia sudah sampai di Gapura Pesantren Giri.
Dua orang penjaga pintu gerbang merasa heran begitu melihat
munculnya Begawan Mintasemeru yang tiba-tiba berada di hadapannya. Bagaikan
hantu saja layaknya.
"Bapraka !" kata Begawan Mintasemeru. Bapraka artinya penjaga pintu
gerbang. "Di mana Gusti Junjunganmu yang disebut Sunan Giri ?"
"Maaf Tuan," kata penjaga itu. "Kanjeng Sunan sedang melaksanakan
shalat dhuhur."
"Apa itu shalat ?" tukas Begawan Mintasemeru. "Cepat beritahukan
kepadanya kalau ada tamu penting."
"Baik Tuan," jawab penjaga pintu gerbang sembari melangkah ke
masjid. Kebetulan pada waktu itu Sunan Giri sudah selesai shalat, juga
selesai berdoa. Penjaga pintu gerbang segera memberitahukan adanya tamu aneh
di depan pintu gerbang.
"Persilahkan saja dia masuk," jawab Sunan Giri.
Begawan Mintasemeru pun masuk, duduk di hadapan Sunan Giri. Setelah
berjabat tangan bertanyalah Sunan Giri, "Wahai, siapakah Tuan ini ? Adakah
sesuatu yang penting sehingga Tuan datang kemari ?"
"Saya, Begawan Mintasemeru, Mahaguru Padepokan Gunung Lawu," jawab
lelaki itu. "Saya datang kemari karena mendengar berita bahwa Tuan selaku
pemimpin perguruan Gunung Giri terkenal lebih sakti dan berilmu tinggi.
Ringkas kata, saya ingin mencoba kesaktian Tuan."
"Sesungguhnya hanya Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa," kata Sunan
Giri. "Saya hanya seorang manusia biasa. Tapi bila Tuan Begawan bermaksud
mencoba setitik ilmu Allah, silahkan saja."
"Ada satu tekad saya," kata Begawan Mintasemeru. "Bila adu kesaktian
nanti Tuan yang kalah, maka saya akan memenggal leher Tuan. Tapi bila saya
yang kalah maka saya akan berguru kepada Tuan dengan memasrahkan jiwa dan raga."
"Ya, boleh saja. Silahkan Tuan," sahut Sunan Giri.
Masih dalam posisi duduk bersila, Begawan Mintasemeru melancarkan
serangan jarak jauh. Dia menghantamkan dada Sunan Giri dengan serangkum hawa
panas dari sepasang telapak tangannya. Mula-mula serangan itu tidak nampak
oleh mata, lama kelamaan terlihatlah kobaran api bergulung-gulung yang
membakar tubuh Sunan Giri.
Sunan Giri masih duduk bersila dengan tenang sembari memegang
tasbihnya. Sungguh ajaib, biarpun dihantam kobaran api pakaian Sunan Giri
tiada terbakar. Juga tidak merasa kepanasan.
Sebaliknya, Begawan Mintasemeru mengucurkan keringat akibat
pengerahan aji kesaktian itu. Lebih tercekat lagi Begawan itu, karena
tiba-tiba saja tubuhnya terasa dikelilingi hawa dingin luar biasa yang
menusuk tulangnya.
Buru-buru Begawan Mintasemeru menghentikan serangan. Hawa dingin
yang menyerang tubuhnya pun seketika lenyap. Begawan Mintasemeru lalu
beranjak keluar. Dengan ilmu kesaktiannya dia berlari cepat menuju Gunung
Patukangan. Di atas puncak dia membentuk dua ekor angsa; jantan dan betina,
kemudian dua ekor angsa itu dikubur dan ditimbuni bebatuan. Sesudah itu,
Sang Begawan kembali menghadap Sunan Giri.
"Saya baru saja mengubur hewan bentukan saya sendiri, apakah hewan
yang saya kubur tadi ?" tanya Begawan Mintasemeru.
Sunan Giri berkata, "Yang Tuan kubur tadi adalah sepasang ular naga
jantan dan betina."
Begawan Mintasemeru tertawa berbahak-bahak, mengejek kebodohan Sunan
Giri yang dianggapnya tidak becus menebak hewan bentukannya.
"Tuan nyata sudah kalah," kata Begawan Mintasemeru dengan pongahnya.
"Yang saya kubur tadi adalah sepasang angsa jantan dan betina. Bukan
sepasang ular naga. Jika Tuan tidak percaya silahkan kita lihat berdua !"
Keduanya segera pergi ke Gunung Patukangan. Sunan Giri ternyata
tidak kalah sakti dengan Begawan Mintasemeru, dia juga dapat bergerak cepat
hingga seolah-olah Gunung Patukangan itu bergerak menuju Sunan Giri.
Timbunan batu dibongkar oleh Begawan Mintasemeru, ternyata isinya
adalah sepasang ular naga. Begawan Mintasemeru menjublak di tempatnya saking
kagetnya. Dia tak habis pikir, kenapa sepasang angsa yang dikuburnya berubah
menjadi sepasang ular naga.
Meski demikian Sang Begawan masih tidak mau menyatakan kalah. Dia
membentuk tempayan yang besar berisi air, dalam bahasa Jawanya adalah
buyung. Buyung berisi air tersebut dilempar ke langit dalam keadaan
tengkurap mestinya air tumpah tapi air dalam buyung itu tidak tumpah.
Ketika Buyung berisi air meluncur turun airnya juga tetap utuh.
Namun belum lagi menyentuh tanah, Sunan Giri menudingkan telunjuknya. Buyung
tersebut tiba-tiba terhenti di udara.
"Maaf Begawan Mintasemeru," ujar Sunan Giri. "Sudah waktunya shalat
ashar. Saya hendak mengambil air wudlu."
Habis berkata demikian air dalam buyung yang berhenti di udara itu
tiba-tiba memancar ke bawah. Dan Sunan Giri mempergunakan air itu untuk
berwudlu. Selesai berwudlu air dalam buyung itu tidak lagi mengucur.
Habis berwudlu Sunan Giri langsung kembali ke Pesantren untuk
memimpin shalat jamaah (menjadi imam). Sedang Begawan Mintasemeru masih
terpana menyaksikan buyung yang terhenti di udara. Dia mengerahkan
kesaktiannya untuk membetot atau menurunkan. Buyung itu, namun sia-sia saja,
buyung itu tetap berhenti di udara. Sementara Begawan Mintasemeru sibuk
membetot buyung itu, Sunan Giri sudah selesai shalat dan kembali ke hadapan
Begawan Mintasemeru.
Sunan Giri melambaikan tangannya ke arah buyung, buyung itu turun di
hadapan Sunan Giri dan berubah menjadi air semua, kemudian dilempar ke udara
hingga lenyap tak berbekas
Begawan Mintasemeru kemudian membentuk telur dalam jumlah yang
banyak. Telur tersebut disusun satu persatu ke udara, anehnya telur itu bisa
berdiri tegak, tak ada satupun yang jatuh. Tapi Sunan Giri lebih hebat lagi.
Dia mengambil telur itu satu persatu dari bawah, anehnya telur yang diatas
tidak jatuh.
"Ini yang terakhir !" seru Begawan Mintasemeru sembari melemparkan
jubahnya ke udara, demikian kuat lemparannya hingga tak tampak lagi oleh
pandangan mata.
Sunan Giri melempar terompahnya ke udara, menyusul jubah Begawan
Mintasemeru, malah terompah itu berada di atas jubah Sang Begawan ini
berarti lemparan Sunan Giri jauh lebih tinggi. Ketika jubah itu turun ke
tanah terompah Sunan Giri masih berada di atasnya.
Serta merta Begawan Mintasemeru "ndeprok", menjatuhkan diri berlutut
di hadapan Sunan Giri, "Saya pasrahkan jiwa raga saya kepada Tuan."
"Sesuai dengan tekad Tuan Begawan," kata Sunan Giri, "Tuan bersedia
belajar di pesantren ini bila kalah. Apakah Tuan masih berkenan untuk
belajar ilmu ?"
"Saya tidak akan mengingkari janji, saya bersedia berguru kepada
Tuan," sahut Begawan Mintasemeru.
Demikianlah, pada akhirnya Begawan Mintasemeru diperkenalkan kepada
keluhuran agama Islam. Sunan Giri tidak memaksa sang Begawan untuk masuk
agama Islam, hanya menunjukkan saja kebaikan agama Islam, namun Begawan
Mintasemeru justru tertarik atas sikap Sunan Giri itu dan menyatakan masuk
Islam.
Setelah masa belajarnya selesai, Begawan Mintasemeru diperintahkan
pulang ke lereng Lawu. Disuruh mendirikan pesantren dan menyebarkan agama
Islam disekitar Gunung Lawu.


IV. Giri diserang Majapahit


Di dalam buku BABAD TANAH JAWA disebutkannya Giri Kedhaton, Kedhaton
artinya keraton. Jadi berdasarkan nama tersebut di Giri pernah ada semacam
pemerintahan ulama'. Sunan Giri sendiri sering disebut Prabu Satmaa, dengan
demikian lengkaplah sudah bahwa Sunan Giri itu adalah salah seorang wali dan
seorang raja. Akan tetapi pemerintahan atau kerajaan Giri tidak seperti
kerajaan-kerajaan lain yang hanya mementingkan materi saja. Pemerintahan di
Giri ada karena hubungan solidaritas Islam, hubungan ruh Islam.
Daerah-daerah yang sudah masuk agama Islam otomatis mengakui adanya
kedaulatan Giri Kedhaton.
Disebutkan di dalam buku BABAD TANAH JAWA bahwa raja Majapahit
merasa iri setelah mendengar adanya Giri Kedhaton yang makin lama makin
terkenal, bukan saja di Tanah Jawa melainkan di seluruh Nusantara.
Pada suatu hari, raja Majapahit menyuruh dua orang Senopatinya yang
terkenal lihai, sakti dan selalu berhasil melaksanakan tugasnya membunuh
orang yang harus disingkirkan. Kedua senopati itu namanya Lembusura dan
Keboharja.
Kedua jagoan itu menyusup ke Giri Kedhaton. Mereka bersembunyi di
tempat yang dianggap aman. Di dekat sebuah kolam sembari memperhatikan
orang-orang sekitarnya.
Malam itu Sunan Giri keluar rumah untuk mengambil air wudlu. Baru
saja beliau hendak menyauk air tiba-tiba berkelebat dua bayangan gesit di
hadapannya.
Namun sungguh aneh, ketika Lembusura dan Keboharja hendak maju
menyerang tiba-tiba tubuhnya tidak dapat bergerak, seluruh tulang-tulang
keduanya tiba-tiba seperti dilolosi dalam bahasa Jawanya, kedua senopati itu
nggreweli, gemeter, ndredeg, wel-welan, demikian gambaran yang dituturkan
dalam BABAD TANAH JAWA.
Sunan Giri yang dikaruniai ilmu ladunni sebenarnya sudah tahu maksud
kedua senopati Majapahit itu. Tetapi beliau masih mengajukan pertanyaan
sembari tersenyum, "Seperti Senopati Majapahit. Apa yang kalian lakukan di
tempat ini ?"
Lembusura berkata dengan suara gemetar, "Mohon ampun, kami utusan
dari Majapahit. Diperintah oleh Sang Prabu untuk membunuh Paduka !"
"Kenapa tidak lekas kalian kerjakan ?" sahut Sunan Giri.
Kedua senopati itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapan
Sunan Giri. "Ampun... ampunilah kami wahai Sunan Giri. Seluruh ilmu yang
kami miliki tiba-tiba seperti sirna. Kami tidak berdaya menggerakkan
otot-otot kami."
"Laa haula walaa quwwata illaa billaahi," gumam Sunan Giri. "Tidak
ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Jika kalian tidak
sanggup menjalankan tugas dari rajamu, kembalilah pada rajamu katakan apa
yang kalian alami."
Sungguh aneh, ketika kedua senopati itu menuruni bukit Giri
ilmu-ilmu kesaktian yang mereka miliki seperti semula. Mereka segera
meneruskan perjalanan ke Majapahit.
Diceritakan bahwa kedua senopati itu menghadap di istana Majapahit
pada keesokan harinya. Pada waktu itu banyak punggawa kerajaan juga sedang
berkumpul termasuk Mahapatih kerajaan Majapahit.
"Lembusura dan Keboharja !" kata Raja Majapahit. "Apakah kalian
sudah berhasil melaksanakan tugas yang kuberikan ?"
"Ampun Gusti Prabu !" sahut Lembusura sembari membungkuk hormat.
"Kami sudah bertemu dengan Sunan Giri yang disebut Prabu Satmata. Tetapi
seluruh tubuh kami tiba-tiba menjadi lemas dan lumpuh. Seluruh ilmu yang
kami miliki tiba-tiba seperti sirna. Ampun Gusti Prabu, kali ini kami gagal
menjalankan tugas !"
Merah padam wajah Raja Majapahit mendengar laporan kedua senopati
andalannya itu. Baru kali ini raja Majapahit mendapat malu. Lembusura dan
Keboharja mestinya dihukum mati karena tidak bisa melaksanakan tugasnya,
namun mengingat jasa-jasanya maka kedua senopati itu masih diampuni. Raja
Majapahit kemudian memerintahkan Mahapatihnya untuk mengumpulkan bala
tentara Majapahit dalam jumlah besar. Seluruh angkatan perang dari berbagai
Kadipaten dikerahkan, dan dibawah komando Mahapatih Majapahit mereka
menyerang Giri Kedhaton.
Al kisah, prajurit Majapahit yang berjumlah ribuan orang itu sudah
hampir sampai dibawah bukit Giri. Mereka bermaksud mendaki namun hal ini
diketahui oleh Sunan Giri. Tiba-tiba saja dari atas bukit Giri datang air
bah yang sangat deras, prajurit Majapahit yang bermaksud naik ke atas bukit
hanyut terbawa arus air, sebagian tenggelam dan sebagian lagi lari
pontang-panting. Air bah itu menggenangi tambak dan sawah sehingga para
prajurit Majapahit yang masih selamat tak bisa mendaki bukit, mereka
dikepung oleh air bah yang kini berubah seperti samudra.
Berhari-hari mereka mengalami nasib seperti itu sehingga mulai
banyak yang mati kelaparan. Sunan Giri merasa kasihan melihat hal itu.
Beliau kemudian mengeluarkan karomahnya sehingga sebagian tambak yang
berubah jadi laut itu berubah menjadi beras, para prajurit Majapahit bisa
makan dengan kenyang. Ada yang menyebutkan air bah tersebut membawa
umbi-umbian seperti bentul dan ketela. Setelah prajurit Majapahit kenyang
dan kuat mereka membuat jembatan dan akhirnya bisa menyeberangi laut dan
terus mendaki bukit Giri.
Pada saat itu Sunan Giri sedang menulis kitab dengan kalam. Kalam
tersebut dilemparkan ke bawah bukit dan tiba-tiba berubah menjadi keris yang
melayang-layang dan berputar-putar menyerang para prajurit Majapahit. Banyak
prajurit yang mati bergelimpangan, namun sebagian masih terus mendaki bukit.
Sunan Giri mengambil segenggam pasir lalu di lempar ke arah para prajurit
Majapahit. Dengan izin Allah, pasir tersebut berubah menjadi ribuan tawon
yang menyerang para prajurit Majapahit. Para prajurit terpaksa melarikan
diri, sebagian sengaja menceburkan diri ke dalam laut agar tidak diserang
tawon. Sebagian lagi terus melarikan diri pulang ke Majapahit.
Keris yang berasal dari kalam itu dinamakan Keris Kalamunyeng dan
sampai sekarang disimpan di Giri sebagai barang peninggalan atau barang pusaka.
Demikianlah, Majapahit yang bermaksud menggempur Giri ternyata
mengalami kegagalan total.
Menurut sebagian pendapat ahli sejarah, yang menyerang Giri itu
bukan Prabu Brawijaya Kertabhumi yang menjadi ayah Raden Patah. Melainkan
Raja Girindrawardhana yang justru telah menyerang dan merebut kekuasaan
Majapahit dari Prabu Kertabhumi. Jadi Raja Majapahit yang menyerang Giri
Kedhaton itu sebenarnya adalah musuh dari ahli waris kerajaan Majapahit yang
sah yaitu Raden Patah.

Kisah Wali Songo 3.2 (Sunan Giri)

· 0 ulasan

Kisah Wali Songo 3.2 (Sunan Giri)
II. Masa Muda Sunan Giri


Bayi yang dilempar ke samudra telah hanyut dibawa arus air laut
sehingga sampai ke selat Bali. Ada sebuah kapal layar yang bermaksud pergi
ke Pulau Bali. Tiba-tiba saja tanpa ada hujan dan badai, kapal itu diam tak
dapat bergerak.
Nahkoda kapal memerintahkan awaknya untuk memeriksa. Dua orang awak
kapal turun ke laut. Setelah diperiksa ternyata kapal tersebut menabrak
sebuah peti.
"Aneh !" gumam si awak kapal. "Hanya sebuah peti, tidak seberapa
besar tapi kapal ini tak dapat bergerak."
Peti berisi bayi putra Dewi Kasiyan itu dibawa ke atas kapal.
Diserahkan kepada Nahkoda, setelah dibuka ternyata berisi seorang bayi
mungil bertubuh montok dan sehat.
Sesungguhnya kapal layar itu milik seorang saudagar kaya raya di
Gresik. Namanya Nyai Ageng Pinatih. Ada yang menyebut Nyai Ageng Ternate.
Juragan Abu Hurairah yang memimpin kapal dagang itu segera mengurus si
jabang bayi.
"Sungguh biadab perbuatan manusia yang melemparkan bayi ini ke
tengah samudra." kata Juragan Abu Hurairah. Kemudian Juragan Abu Hurairah
memerintahkan nahkoda untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali.
Lagi-lagi terjadi keanehan, ketika kapal diarahkan ke Pulau Bali,
kapal ini tidak mau bergerak maju. Segala usaha untuk menggerakkannya tidak
membawa hasil. Dengan putus asa akhirnya Juragan memerintahkan kembali ke
Gresik, ajaib, begitu perintah dilaksanakan kapal dapat bergerak kembali.
Secara iseng Juragan Abu Hurairah kemudian mencoba mengarahkan kapal kembali
ke arah timur yaitu ke arah Pulau Bali tapi tiba-tiba saja kapal itu tidak
dapat bergerak. Maka diputuskan untuk kembali ke Gresik dan kapal kembali
bergerak dengan lancar, melaju di atas laut dengan kecepatan tinggi.
Orang-orangpun pada heran mengalami kejadian aneh itu.
Sampai di Gresik hampir saja Abu Hurairah didamprat Nyai Ageng
Pinatih karena Abu Hurairah tidak jadi berdagang ke Pulau Bali. Tapi ketika
Abu Hurairah menyerahkan peti berisi bayi dan menceritakan kejadian aneh
yang menimpanya maka Nyai Ageng Pinatih urung memarahinya.
Nyai Ageng Pinatih adalah seorang janda yang kaya raya, namun
sayang, dia tidak mempunyai anak. Begitu melihat wajah bayi yang dibawa Abu
Hurairah timbul rasa suka dan sayang di hati Nyai Ageng Pinatih.
Diumumkannya kepada semua anak buahnya bahwa bayi itu diambil sebagai anak
angkatnya.
"Karena bayi ini ditemukan di atas Samudra, maka sekarang bayi ini
kunamakan Jaka Samudra." demikian kata Nyai Ageng Pinatih.
Demikianlah, bayi itu kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh Nyai
Ageng Pinatih dengan limpahan kasih sayang. Setelah agak cukup umurnya Jaka
Samudra diperintahkan untuk belajar mengaji di Ampeldenta.
Sejak kecil Jaka Samudra sudah mempunyai karomah. Apabila hendak
mengaji ke Ampeldenta yang terletak di Surabaya dia cukup berjalan ke tepi
pantai Gresik, kemudian dia melambaikan tangannya ke daratan Surabaya.
Dengan izin Allah daratan tersebut tiba-tiba mendekat ke pantai Gresik dan
Jaka Samudra tinggal melompatinya saja. Demikian pula bila dia hendak pulang
ke Gresik, dia pergi ke tepi pantai Surabaya dan melambaikan tangannya ke
daratan Gresik maka datanglah daratan Gresik ke Surabaya.
Sunan Ampel yang melihat Jaka Samudra tiap hari pulang pergi dari
Gresik ke Surabaya tak sampai hati, maka dia menyarankan agar Jaka Samudra
mondok atau tinggal saja di Pesantren Ampeldenta. Hal itu diutarakan Jaka
Samudra kepada ibunya, Nyai Ageng Pinatihpun menyetujuinya, sejak itu Jaka
Samudra tinggal di Pesantren Ampeldenta.
Dengan tinggal di Pesantren Ampeldenta, Jaka Samudra lebih banyak
mencurahkan perhatiannya kepada pelajaran yang diberikan Sunan Ampel
kepadanya. Diapun lebih giat dan tekun dalam mempelajari ilmu agama Islam.
Pada suatu malam, ketika Sunan Ampel hendak melakukan shalat tahajud
beliau memeriksa para santri yang tidur. Ketika dia membuka ruang yang
ditempati Jaka Samudra dan kawan-kawannya, beliau terkejut karena ada sinar
mencorong dari salah seorang santri yang sedang tidur. Karena tak dapat
melihat wajah santri yang mencorong wajahnya itu maka sarung santri yang
wajahnya bersinar itu diberi tanda dengan cara mengikat bundelan kecil.
Esok harinya, usai shalat subuh Sunan Ampel memanggil para santrinya.
"Siapa yang waktu bangun sarungnya ada bundelan ?" tanya Sunan Ampel.
Tidak ada yang mengacung kecuali Jaka Samudra, "Saya kanjeng Sunan... "
Sunan Ampel memandang Jaka Samudra dengan penuh seksama. Dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Setelah memberikan pelajaran kepada para santri,
Sunan Ampel memanggil Jaka Samudra seorang diri.
"Jaka Samudra... " kata Sunan Ampel. "Siapa sesungguhnya kedua orang
tuamu ?"
"Orang tua saya... ?" Jaka Samudra bertanya heran. "Bukankah Kanjeng
Sunan sudah mengetahui bahwa saya hanya mempunyai seorang ibu, namanya Nyai
Ageng Pinatih."
"Apakah sejak kecil kau diasuh oleh Nyai Ageng Pinatih ?" tanya
Sunan Ampel.
"Benar Kanjeng Sunan," jawab Jaka Samudra. "Bahkan semenjak saya ini
masih bayi."
"Apakah kau keberatan kalau hari ini kusuruh pulang untuk
memberitahukan kepada ibumu bahwa aku hendak berkunjung ke rumah Nyai Ageng
Pinatih ?"
"Saya sama sekali tidak keberatan Kanjeng Sunan... " jawab Jaka
Samudra dengan penuh hormat.
"Kalau begitu pulanglah ke Gresik sekarang juga." perintah Sunan Ampel.
"Sendika, Kanjeng Sunan," jawab Jaka Samudra, kemudian minta diri
dengan mengucapkan salam. Diapun segera berjalan ke tepi pantai Surabaya.
Tanpa setahu Jaka Samudra perjalanannya diikuti oleh Sunan Ampel.
Maka tahulah Sunan Ampel akan karomah Jaka Samudra yang dapat memanggil
daratan Gresik dengan lambaian tangannya.
"Dia bukan anak sembarangan," gumam Sunan Ampel. "Aku tidak percaya
kalau dia putra kandung Nyai Ageng Pinatih."
Akan halnya dengan Jaka Samudra. Dia sangat terkejut ketika tiba di
rumahnya. Ternyata Sunan Ampel sudah berbincang-bincang dengan ibu
angkatnya. Tahulah Jaka Samudra bahwa Sunan Ampel adalah salah seorang wali
besar yang memiliki karomah yang luar biasa hebatnya. Bukankah Sunan Ampel
masih berkumpul dengan keluarganya tatkala ia berpamit hendak pulang ke
Gresik. Tapi sekarang tiba-tiba sudah berada di rumah ibunya.
Setelah memberi salam Jaka Samudra masuk, dia lebih heran lagi
tatkala Sunan Ampel merangkul dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Benar dugaanku, kau adalah putra pamanku sendiri," kata Sunan Ampel
penuh haru.
Sesungguhnya, dari pengakuan Nyai Ageng Pinatih yang menemukan Jaka
Samudra di tengah laut. Sunan Ampel dapat menarik kesimpulan bahwa Jaka
Samudra adalah putra pamannya sendiri yang bernama Syeh Maulana Ishak.
Setelah meninggalkan Blambangan. Syeh Maulana Ishak tidak langsung
ke Samudra Pasai melainkan mampir lebih dahulu di Ampeldenta. Syeh Maulana
Ishak menceritakan pengalamannya sewaktu berdakwah ke Blambangan. Juga
mengenai anaknya yang dibuang ke tengah samudra. Tentang anaknya yang
dibuang ke tengah samudra ini, Syeh Maulana Ishak mendengarnya dari beberapa
awak kapal yang singgah di Blambangan.
Syeh Maulana Ishak memang pamannya Sunan Ampel. Dia adalah adik
ayahanda Sunan Ampel yang bernama Syeh Maulana Ibrahim Asmarakandi.
Sunan Ampel kemudian mengutarakan isi hatinya, "Dahulu sewaktu Paman
Maulana Ishak datang ke Surabaya telah berpesan kepadaku, bahwa bila aku
bertemu dengan anaknya hendaklah memberinya nama Raden Paku."
"Bila demikian mulai sekarang Jaka Samudra kita beri nama Raden Paku
saja sesuai dengan permintaan ayahnya." sahut Nyai Ageng Pinatih.
Sejak saat itu Sunan Ampel menaruh perhatian khusus pada Raden Paku.
Ia diberi pelajaran agama Islam secara sungguh-sungguh, seperti Fiqh,
Tauhid, Al-Qur'an, Hadits, dan sebagainya. Demikian tekunnya Raden Paku
belajar, ditambah kecerdasan otaknya maka setelah menginjak dewasa dia sudah
dapat menyerap hampir seluruh ilmu Sunan Ampel. Dia juga dapat memiliki
karomah yang dimiliki oleh sebagian besar para wali, yaitu berjalan di atas air.
Ketika berguru pada Sunan Ampel itu, Raden Paku sangat akrab dengan
putra Sunan Ampel yang bernama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Demikian
akrabnya kedua pemuda itu bersahabat sehingga seperti saudara kandung saja.
Dan memang demikian perlakuan Sunan Ampel terhadap Raden Paku, ia dianggap
seperti putra kandung sendiri.
Tibalah saatnya bagi kedua pemuda itu untuk meneruskan pelajaran
agama ke negeri Mekkah. Sunan Ampel menyarankan kedua pemuda itu untuk
singgah di negeri Pasai, tempat Syeh Maulana Ishak berada.
"Di negeri Pasai, ayahmu itu menjadi seorang guru besar, namanya
sangat terkenal. Tak sulit untuk mencarinya." demikian kata Sunan Ampel.
Benar kata Sunan Ampel, nama Syeh Maulana Ishak sangat terkenal di
negeri Pasai. Tanpa menemui kesukaran kedua pemuda itu dapat bertemu
dengannya ketika tiba di negeri Pasai.
Dengan penuh haru, Syeh Maulana Ishak memeluk putra kandung yang
belum pernah dilihatnya sejak lahir. Syeh Maulana Ishak menceritakan
pengalamannya sewaktu berdakwah ke Blambangan. Betapa sedih dan sakit hati
Raden Paku mendengar kisah itu, terutama bila mengenang nasib ibunya. Hancur
luluh rasa hatinya.
"Kita adalah pengikut Nabi Muhammad SAW yang terkenal akan
kesabarannya. Nabi pernah disakiti hatinya oleh Hindun dengan cara membunuh
paman Nabi yang bernama Hamzah. Hamzah dibunuh dengan cara yang keji dan
brutal, sesudah mati jantungnya masih dicongkel keluar, namun Nabi tidak
pernah membalas dendam." demikian kata Syeh Maulana Ishak. "Maka kaupun
selaku ummat Nabi Muhammad SAW, jangan sekali-kali punya niat untuk membalas
dendam kepada kakekmu Prabu Menak Sembuyu. Curahkan segala perhatianmu untuk
menuntut ilmu di negeri Pasai ini. Sementara ini jangan pergi ke Mekkah dulu."
Raden Paku menurut, dia belajar ilmu kepada Syeh Maulana Ishak, juga
kepada para ulama' terkenal yang banyak bermukim di negeri Pasai, baik
ulama' yang berasal dari Bagdad, Mesir maupun dari Iran.
Tiga tahun Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim belajar ilmu agama di
negeri Pasai. Berbagai masalah agama telah dikuasainya. Umpamanya untuk
bekal berdakwah sudah dianggap cukup. Pribadi kedua anak muda itu tampak
jauh lebih matang. Terutama setelah mereka belajar secara langsung tentang
ilmu Tauhid dan Tasawwuf kepada para guru Tasawwuf yang konsekwen dan sangat
menjiwai ilmunya.
Raden Paku menerapkan ilmu yang dipelajarinya itu dalam kehidupan
sehari-hari. Karena kecemerlangan otaknya maka banyak orang mengatakan bahwa
Raden Paku memiliki ilmu ladunni, walaupun usianya masih muda sudah tampak
sebagai seorang ulama' besar, berpribadi agung dan berwibawa.
Karena prestasi yang dicapainya itu maka salah seorang gurunya
memberinya julukan Maulana Ainul Yaqin. Gelar ini sebenarnya hanya pantas
diberikan kepada orang yang sudah tua.
Ada yang mengatakan sesudah belajar di negeri Pasai, kedua pemuda
itu meneruskan perjalanannya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu
naik haji. Ada yang mengatakan setelah belajar di negeri Pasai kedua pemuda
itu langsung pulang ke Tanah Jawa.
Raden Paku pulang ke Gresik. Sedang Raden Maulana Makdum Ibrahim
pulang ke Ampeldenta tapi kemudian menetap di Tuban. Di Tuban, Raden Maulana
Makdum Ibrahim berdakwah dengan menggunakan kesenian tradisional rakyat
yaitu gending yang disebut Bonang, sehingga beliau kemudian lebih dikenal
sebagai Sunan Bonang.
Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin pulang ke Gresik. Membantu usaha
dagang ibu angkatnya sembari berdakwah. Pada suatu ketika Raden Paku
diperintah ibunya mengawal kapal dagang milik ibu angkatnya itu. Tujuannya
ke Pulau Banjar atau Kalimantan. Pemimpin rombongan adalah Juragan Abu Hurairah.
Tiga buah kapal penuh dengan muatan barang menuju Banjar, membawa
dagangan milik Nyai Ageng Pinatih. Biasanya, bila dagangan yang dibawa dari
Gresik habis terjual, kapal-kapal itu akan memuat barang dagangan dari
Kalimantan yang dapat dijual di Gresik.
Sampai di Kalimantan, Raden Paku meminta dua buah kapal yang berisi
barang dagangan itu untuk dijualnya sendiri. Sedang Juragan Abu Hurairah
hanya menjual barang dagangan satu kapal layar.
"Berapa lama biasanya Paman Abu Hurairah menjual barang tiga kapal
?" tanya Raden Paku.
"Sepuluh hari biasanya sudah habis dan kita bisa kembali ke Gresik."
jawab Abu Hurairah.
Raden Paku kemudian mengurus barang dagangannya. Dari kejauhan
Juragan Abu Hurairah merasa heran. Mengapa barang dagangan Raden Paku tampak
laris benar. Hanya beberapa saat setelah barang dagangan itu digelar sudah
tinggal separo. Sedang barang dagangan Abu Hurairah belum ada seperempat
yang laku.
Sore harinya saat beristirahat Juragan Abu Hurairah bertanya kepada
Raden Paku, "Beberapa anak buah saya melihat bahwa barang dagangan Raden itu
laris karena Raden menghutangkannya kepada penduduk Banjar, apakah itu benar
begitu ?"
"Benar Paman," jawab Raden Paku, "Saya memberi waktu dalam tempo
sepuluh hari harus dibayar."
"Ah, bagaimana ini ?" seru Abu Hurairah cemas. "Kami sudah puluhan
tahun berdagang tidak pernah mempergunakan cara seperti itu. Bila dalam
tempo sepuluh hari para penduduk Banjar belum membayar tentu kita akan kena
marah besar oleh Nyai Ageng Pinatih."
"Jangan kuatir Paman, aku yang bertanggung jawab atas semua ini,"
kata Raden Paku dengan tenang.
Setelah sepuluh hari, ternyata tidak ada satupun penduduk pribumi
yang membayar hutangnya. Juragan Abu Hurairah dengan wajah pucat mendatangi
Raden Paku.
"Raden... kita pasti akan dimarahi oleh Nyai Ageng," keluh Juragan
Abu Hurairah. "Besar kemungkinannya saya akan dipecat akibat membiarkan
perbuatan Raden ini."
Wajah Juragan Abu Hurairah tampak pucat, sebaliknya Raden Paku masih
tampak tenang-tenang saja. Berkatalah Raden Paku kepada Juragan Abu Hurairah
dan anak buahnya, "Bila barang-barang yang dihutang penduduk tidak dibayar
itu tandanya harta ibu saya masih bercampur dengan harta fakir miskin,
hartanya tidak bersih karena zakat yang dikeluarkan masih kurang. Biarlah
uang yang dihutang penduduk tidak kembali sebesar ganti dari zakat yang
harus dikeluarkan oleh ibu angkat saya."
"Ya, bisa jadi begitu," sahut Juragan Abu Hurairah. "Tapi setidaknya
kita harus membicarakannya lebih dahulu dengan Nyai Ageng. Kalau kita tak
bisa membawa barang dagangan dari Pulau Banjar ini tentu Nyai Ageng akan
marah besar sekali. Padahal uang yang terkumpul tidak cukup untuk membeli
barang sebanyak tiga muatan kapal. Hanya cukup untuk muatan satu kapal."
"Saya yang bertanggung jawab atas semua itu." kata Raden Paku.
"Lalu... bagaimana dengan dua kapal yang kosong itu ?" tanya Juragan
Abu Hurairah. "Kita tidak biasa berlayar dengan muatan kosong. Kapal yang
kosong bisa tenggelam dilempar ombak besar."
Raden Paku terdiam beberapa saat, kemudian berkata, "Isilah karung
dan keranjang-keranjang yang kita miliki dengan batu dan pasir agar kapal
kita tidak tenggelam."
Akhirnya Juragan Abu Hurairah menuruti apa kata Raden Paku. Dua
perahu besar yang kosong diberi muatan batu dan pasir. Setelah itu mereka
diperintahkan Raden Paku untuk kembali ke Gresik.
Sampai di Gresik, Juragan Abu Hurairah buru-buru melaporkan
perbuatan aneh Raden Paku tersebut. Tepat dugaan Abu Hurairah, Nyai Ageng
kontan marah-marah, bukan saja kepada Raden Paku tapi juga kepada Abu
Hurairah itu sendiri.
Raden Paku sendiri hanya terdiam saja tatkala ibu angkatnya itu
dengan wajah merah padam memarahinya. Dia dikatakan sebagai anak muda tak
tahu diri, bodoh dan tidak sehat akalnya. Barulah setelah ibu angkatnya itu
selesai bicara Raden Paku mendongakkan kepala menatap wajah ibu angkatnya.
"Jangan tergesa-gesa bu," kata Raden Paku. "Juragan Abu Hurairah
tidak bersalah. Memang saya yang menyuruh para awak kapal untuk mengisi
karung dan keranjang dengan batu dan pasir. Ini untuk menjaga agar kapal
tidak oleng kena ombak ."
"Diam kau !" kata Nyai Ageng Pinatih. "Anak tak tahu diri, menyesal
aku menyuruhmu mengawal Juragan Abu Hurairah ke Pulau Banjar. Buat apa batu
dan pasir itu. Hayo perintahkan kepada para awak untuk membuangnya ke laut !"
"Sabar bu... " kata Raden Paku dengan suara merendah. "Sebaiknya ibu
lihat dulu barang-barang itu. Suruhlah para awak kapal membuka karung dan
tutup keranjang lebih dahulu."
Nyai Ageng Pinatih buru-buru naik ke kapal. Diperintahkannya para
awak kapal membuka karung dan keranjang yang tadinya diisi dengan batu dan
pasir. Betapa terkejutnya Nyai Ageng Pinatih, setelah karung dan keranjang
itu dibuka ternyata berisi barang-barang berharga yang dibutuhkan masyarakat
Gresik dan orang-orang Jawa pada umumnya, seperti rotan, damar, permata dan
lain sebagainya.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, Nyai Ageng Pinatih menemui Raden Paku
untuk meminta maaf. Tahulah sekarang dia, bahwa anak angkatnya itu bukan
orang sembarangan. Bila dihubungkannya peristiwa-peristiwa aneh yang
senantiasa dialami anak angkatnya itu, yaitu sejak diketemukannya di tengah
samudra maka sadarlah Nyai Ageng Pinatih, bahwa Raden Paku kelak akan
menjadi orang yang luhur derajadnya. Raden Paku tentulah dapat meniru jejak
gurunya yaitu Sunan Ampel yang terkenal sebagai anggota Wali Songo. Sejak
itu Nyai Ageng Pinatih menjadi insyaf. Dia menjadi giat melaksanakan
perintah agama, giat mengorbankan hartanya untuk menyiarkan agama Islam.
Raden Paku sendiri semakin giat menyebarkan ajaran agama Islam di
kalangan masyarakat Gresik. Dengan bantuan dan nasehat Sunan Ampel serta
Sunan Bonang juga bantuan materi dari Nyai Ageng Pinatih maka Islam semakin
berkembang pesat di daerah Gresik.

Kisah Wali Songo 3.1 (Sunan Giri)

· 0 ulasan

Kisah Wali Songo 3.1 (Sunan Giri)
Sunan Giri


I. Ayah dan Ibu Sunan Giri


Al-kisah di kerajaan Blambangan yang diperintah oleh Prabu Menak
Sembuyu sedang dilanda wabah penyakit. Wabah penyakit itu sampai merambat ke
istana dan putri Raja Blambangan yang bernama Retna Dewi Kasiyan turut
terserang juga.
Prabu Menak Sembuyu dan Permaisurinya gelisah. Sudah beberapa hari
sang putri tidak sadarkan diri. Sedang rakyat Blambangan makin hari makin
banyak yang meninggal dunia. Ibarat esok sakit maka sorenya mereka meninggal
dunia.
Prabu Menak Sembuyu kemudian mengutus patihnya yang bernama Bajul
Sengara untuk mencari orang sakti agar bisa mengusir wabah penyakit dan
menyembuhkan penyakit putrinya. Segala dukun dan tabib sudah dihubungi tapi
sang putri masih belum sembuh juga. Meski demikian Patih Bajul Sengara tidak
berputus asa, dia terus berkelana untuk mencari orang sakti. Melintas
jurang, menembus hutan.
Pada suatu hari Patih Bajul Sengara sampai ke puncak gunung. Bertemu
dengan seorang pertapa bernama Resi Kandabaya. Resi Kandabaya terkenal akan
kesaktian dan ketinggian ilmunya. Konon Resi Kandabaya ini salah seorang
yang waskita. Dia sudah tahu maksud tujuan Patih Bajul Sengara sebelum patih
itu mengutarakan maksud kedatangannya.
Maka begitu Patih Bajul Sengara duduk bersimpuh di hadapan Resi
Kandabaya, resi itu menyuruhnya pulang kembali. "Aku tak mampu menyembuhkan
Dewi Kasiyan dan mengusir wabah penyakit di Blambangan. Hanya seorang yang
dapat melakukan hal itu, yaitu seorang pertapa yang saat ini berada di
sebuah gua, terletak di bawah pohon beringin di pintu gerbang perbatasan
kerajaan Blambangan."
"Terima kasih atas petunjuk Bapa Resi," kata Patih Bajul Sengara
dengan hati lega.
"Sampaikan salamku bila kamu bertemu dengan pertapa itu," sambung
Resi Kandabaya.
"Akan saya sampaikan," kata Patih Bajul Sengara sembari menunduk
penuh hormat kemudian berpamit minta diri.
Benar kata Resi Kandabaya, ketika Patih Bajul Sengara menggali tanah
dibawah pohon beringin perbatasan kerajaan Blambangan, tampak sebuah gua.
Disana ada sebuah cahaya berkilauan, ketika patih itu mendekat ternyata
berasal dari wajah seseorang yang sedang bersila, tafakur sembari berdzikir
menyebut asma Allah.
Pertapa itu mengenakan baju serba putih, wajahnya tampan dan bersih
serta bercahaya. Setelah mengetahui kedatangan Patih Bajul Sengara, pertapa
itu meletakkan tasbihnya.
"Ada apa Kisanak datang kemari ?" tanya pertapa itu.
"Saya menghaturkan salam Resi Kandabaya." kata Patih Bajul Sengara.
"Dan... juga menyampaikan permintaan Prabu Menak Sembuyu agar Tuan suka
mengobati putrinya yang sedang sakit."
"Juga mengusir wabah penyakit yang melanda Blambangan ?" sambung
pertapa itu.
"Benar Tuan," ujar Patih Bajul Sengara.
"Katakan kepada rajamu, namaku Maulana Ishak. Aku bersedia
menyembuhkan putri Prabu Menak Sembuyu dan mengusir wabah penyakit yang
melanda Blambangan asal saja Prabu Menak Sembuyu bersedia masuk Islam."
Patih Bajul Sengara kemudian kembali ke istana Blambangan
menyampaikan syarat yang diajukan Syeh Maulana Ishak. Ternyata Prabu Menak
Sembuyu bersedia menerima syarat itu. Bahkan siapa saja yang bisa
menyembuhkan putrinya akan dijodohkan dengan putrinya itu, kalau perempuan
akan diambil saudara.
Setelah mendengar kesediaan Prabu Menak Sembuyu, Patih Bajul Sengara
kembali ke gua menemui Maulana Ishak. Pertapa itu diajaknya ke istana
Blambangan.
Raja Blambangan menyambut gembira kedatangan Syeh Maulana Ishak.
Bersama-sama kemudian diajaknya Maulana Ishak ke kamar Dewi Kasiyan. Putri
yang cantik jelita itu terbaring lemah dengan wajah pucat dan mata terpejam
di atas pembaringan.
Syeh Maulana Ishak mengambil air wudlu, kemudian shalat dua rakaat,
setelah berdoa dia meniup dahi dan kepala Dewi Kasiyan sebanyak tiga kali.
Ajaib, putri Raja Blambangan itu seketika sembuh seperti sedia kala.
Raja dan permaisuri sangat gembira. Saking gembiranya Prabu Menak Sembuyu
kemudian memanggil patihnya agar memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa
Maulana Ishak diambil menantu, diberi kedudukan sebagai adipati dan seluruh
rakyat Blambangan agar masuk Islam.
Kemudian diadakanlah pesta besar-besaran untuk merayakan perkawinan
antara Syeh Maulana Ishak dengan Dewi Kasiyan. Dalam suasana yang riang
gembira itu justru Syeh Maulana Ishak bersedih hati, karena hidangan yang
disediakan dalam pesta itu berupa makan-makanan yang menjijikkan seperti
babi hutan, cacing, ular, kadal, panggang kodok, anjing dan hewan-hewan
haram lainnya.
Syeh Maulana Ishak kemudian berdoa. Tidak beberapa lama kemudian
terjadi keajaiban, hewan-hewan yang sudah dimasak itu tiba-tiba hidup lagi
dan berloncatan kesana kemari sehingga suasana pesta jadi hiruk pikuk. Dalam
keadaan demikian Syeh Maulana Ishak dan Dewi Kasiyan pulang ke tempat
tinggalnya yang tidak jauh dari Istana Blambangan. Tidak ada satupun makanan
yang disentuh oleh Syeh Maulana Ishak.
Esok harinya Syeh Maulana Ishak menghadap Prabu Menak Sembuyu. Raja
sudah tak sabar agar Syeh Maulana segera menyingkirkan wabah penyakit yang
melanda kerajaan Blambangan.
Syeh Maulana Ishak kemudian berkata,"Penyakit merajalela di
mana-mana karena rakyat Blambangan kurang menjaga kebersihan. Saya lihat
penduduk banyak yang buang hajat di sembarang tempat. Di pekarangan, di
ladang-ladang bahkan di tepi jalanan. Juga kebiasaan makan-makanan yang
mengandung racun. Cara mengatasinya tidak lain adalah membiasakan hidup
bersih dan jangan makan daging hewan beracun."
Raja percaya akan ucapan Syeh Maulana Ishak, Patih Bajul Sengara
disuruh menyampaikan kepada seluruh rakyat untuk melaksanakan nasehat Syeh
Maulana Ishak. Di samping itu Syeh Maulana Ishak juga memberikan beberapa
ramuan untuk mengobati penduduk yang terlanjur sakit. Maka tidak begitu lama
wabah penyakit di Blambanganpun lenyap.
Sementara itu Dewi Kasiyan sudah hamil tujuh bulan. Agaknya rakyat
Blambangan tidak tahan untuk membiasakan hidup bersih seperti anjuran Syeh
Maulana Ishak. Mandi sehari dua kali dirasa sebagai siksaan bagi mereka,
karena mereka sudah biasa mandi selama tiga atau empat hari sekali. Mereka
juga tidak dapat meninggalkan kebiasaan makan daging tikus, ular, cacing,
kodok, babi hutan, ulat dan beberapa hewan haram lainnya. Maka ketika
kebiasaan buruk itu dijalankan lagi ada tanda-tanda berjangkitnya penyakit
menular lagi.
Di samping itu, Syeh Maulana Ishak melihat gelagat kurang baik dari
Patih Bajul Sengara. Orang itu sepertinya merasa iri dan dendam kepadanya.
Beberapa kali Syeh Maulana Ishak diserang dengan menggunakan ilmu hitam
(santet) tapi serangan itu tidak membawa hasil.
Pada suatu hari, Syeh Maulana Ishak berpamit kepada istrinya. "Aku
akan pergi ke negeri Pasai. Bukannya aku takut berhadapan dengan Patih Bajul
Sengara dan para prajurit Blambangan, tapi aku tidak ingin terjadi
pertumpahan darah di antara kita. Maka relakanlah aku pergi istriku. Bila
anak kita laki-laki namakan saja Raden Paku. Bila perempuan terserah kau."
Hanya beberapa saat saja setelah Syeh Maulana Ishak naik kapal layar
meninggalkan Blambangan, rumah kediamannya di kepung oleh ratusan prajurit
yang dipimpin oleh Patih Bajul Sengara.
Tapi Patih Bajul Sengara dan anak buahnya kecele, mereka hanya
mendapatkan Dewi Kasiyan seorang diri di dalam rumahnya. Patih Bajul
Sengara, kemudian memerintahkan prajurit Blambangan mengejar Syeh Maulana
Ishak. Tetapi terlambat, kapal layar yang ditumpangi Syeh Maulana Ishak
sudah berada di tengah lautan.
Dengan hati kesal Patih Bajul Sengara membawa para prajuritnya ke
Istana Blambangan. Dia melaporkan kegagalan tugas membunuh Syeh Maulana Ishak.
"Tidak mengapa !" kata Prabu Menak Sembuyu. "Yang penting orang itu
telah meninggalkan Blambangan."
Ya, atas hasutan Patih Bajul Sengara, Raja Blambangan telah keluar
dari agama Islam. Mereka hanya berpura-pura masuk Islam. Sebenarnya mereka
membenci Islam yang melarang makan babi, ular, cacing, dan binatang-binatang
haram lainnya.
Tidak beberapa lama sepeninggal Syeh Maulan Ishak, Blambangan di
landa wabah penyakit lagi. Pendudukpun panik, segala upaya dikerahkan untuk
mengusir wabah penyakit itu, tapi usaha ke arah itu tidak menunjukkan hasil.
"Gusti Prabu !" kata Patih Bajul Sengara kepada Prabu Menak Sembuyu.
"Wabah penyakit ini tidak lain adalah akibat anak yang dikandung oleh Dewi
Kasiyan. Dewa-dewa telah murka karena Dewi Kasiyan mengandung anak orang
asing yang bermaksud mengganti agama kita. Bila anak itu lahir baiknya kita
bunuh saja !"
"Apakah betul begitu Patih ?" tanya Prabu Menak Sembuyu ragu. "Pasti
karena jabang bayi yang dikandung Dewi Kasiyan, Prabu !" Patih Bajul Sengara
mencoba meyakinkan hasutannya.
Tentu saja Dewi Kasiyan yang mendengar ucapan Patih Bajul Sengara
itu menangis menjadi-jadi. Dia mencoba memprotes tapi Prabu Menak Sembuyu
agaknya lebih mendengarkan suara patihnya daripada mendengar gugatan putrinya.
Setelah tiba waktunya lahirlah anak laki-laki dari rahim Dewi
Kasiyan. Wajahnya elok dan bercahaya. Dewi Kasiyan mendekap anak yang baru
dilahirkannya itu erat-erat manakala anak buah Patih Bajul Sengara bermaksud
merebut dan membunuh bayinya.
Sebenarnya timbul rasa suka pada hati Prabu Menak Sembuyu ketika
melihat wajah tampan cucunya itu. Tapi dia terlanjur menyetujui rencana
patihnya, maka dia hanya dapat melihat saja kejadian itu.
"Rama Prabu," kata Dewi Kasiyan kepada ayahnya. "Lebih baik bunuh
saja saya daripada anak yang tidak berdosa ini jadi korban !"
"Putriku, bayi ini adalah penyebar wabah penyakit, relakanlah Patih
Bajul Sengara untuk membunuhnya." kata Prabu Menak Sembuyu.
"Tidak ! Itu hanya fitnah saja ! Kalau Rama Prabu bersikeras hendak
membunuh anak ini saya akan membunuh diri lebih dulu !" Prabu Menak Sembuyu
terkejut mendengar kebulatan hati anaknya itu.
"Dengan adanya bayi itu maka wabah penyakit makin merajalela. Kita
semua akan binasa karenanya. Anak itu harus dilenyapkan !" kata Patih Bajul
Sengara sengit.
"Kau harus berkorban demi kepentingan orang banyak anakku." ujar
Prabu Menak Sembuyu.
"Tidak ! Kalau mau membunuh anak ini. Bunuh pula saya selaku ibunya
!" pekik Dewi Kasiyan.
Keduanya sama-sama bersikeras pada pendirian masing-masing. Akhirnya
ditempuh jalan tengah. Si jabang bayi akan dilarung ke tengah samudra.
Artinya bayi itu akan dimasukkan ke dalam peti kemudian dibuang ke tengah
lautan.
Dewi Kasiyan tak dapat menolak lagi.
"Bila Dewa menghendakinya hidup maka anak itu akan ditolong
seseorang. Bila Dewa menghendakinya mati maka anak itu akan ditelan
samudra." demikian putusan akhir Prabu Menak Sembuyu.
Beberapa hari kemudian rencana itu dilaksanakan Dewi Kasiyan turut
serta dalam upacara pembuangan bayi itu. Sebelum dilempar ke tengah laut
Dewi Kasiyan mencium anaknya itu berkali-kali. Hancur luluh seluruh jiwanya.
Anak pertama tampan dan elok sangat dikasihinya, harus menerima nasib
sedemikian kejam.
Saat yang mendebarkan bagi Dewi Kasiyan itu tibalah beberapa orang
prajurit Blambangan membawa peti berisi bayi yang masih berumur beberapa
hari. Mereka naik ke sebuah kapal dan segera bergerak ke tengah laut. Di
tengah laut peti berisi bayi itu dibuang.
Anehnya, tidak ada suara tangisan dari peti itu.
Si jabang bayi sepertinya pasrah dan tegar saja menghadapi nasibnya.
Tidak demikian dengan seorang ibu muda yang masih berdiri di tepi pantai
memandangi laut lepas. Air matanya berlinang-linang. Dialah Dewi Kasiyan
atau dalam kisah-kisah lain disebut Dewi Sekar Dadu.
Prabu Menak Sembuyu jadi sangat menyesal. Karena hanya beberapa hari
sejak putra Dewi Kasiyan itu dibuang ke laut. Sang Dewi langsung jatuh sakit
dan tidak beberapa lama kemudian meninggal dunia.

iklan etoro

iklan paypal

Pilih Siaran radio anda

 

 

klik "STOP" untuk hentikan siaran radio. Semoga terhibur.

Mengenai Saya

Foto saya
Bandar jengka, pahang, Malaysia